““Buu…Bu… Kok ndak ada yang lapor ya?”
“Mau lapor apa to pak?”
“Ya kejadian apa gitu… Yang meresahkan warga.”
“Bapak ini gimana to? Ya bagus tho kalo ndak ada yg lapor.
Itu berarti warga kita itu damai, pak. Kok malah bapak yang resah? Ini diminum.
Habis itu ndang berangkat sana.”
“Tapi…ah.. Gimana ya?”
“Sudahlah, pak. Ndak usah dipikir nemen, paling sebentar
lagi, ada yg bakal lapor..”
(TAK BERAPA LAMA, SEMUA WARGA MEMASUKI PANGGUNG)
“Pak RT…PAK RT!!” (MINAH)
“Lho lho lho? Bu, rame sekali!” (PAK RT)
“Pak RT !! Kita mau lapor, pak.” (CINDY)
“Ada apa ini? Ini masih pagi buat kunjungan, lho.” ( BU RT)
“Haduh, bu. Kita di sini itu
bukan buat silaturrahmi Idul Fitri …eh…ya begitu! Kita ke sini mau
lapor.” (TINA)
“Lhoh ? Ini sebenarnya ada apa? Ndak ada kucing, ndak ada
maling, kok tiba-tiba mau lapor?” (PAK RT)
“Masa’ bapak ndak tau? Apa nya yang ndak ada maling? Kami
semua ini korban kemalingan,pak!” (MINAH)
“Sebanyak ini? Haduh, teledor sekali aku! Tapi, ndak ada
laporan dari warga yang ronda malam.” (PAK RT)
“Ya iyalah, ndak ada. Wong kita sadarnya kecolongan juga
kalau hari sudah pagi, kok..” (NINING)
“Lah iya, toh ! Saya ndak percaya kalo saya akan mengalami
hal memalukan seperti ini.” (MINAH)
“Lho? Kemalingan kok jadi memalukan? Ini sebenernya
kemalingan apa tho warga-warga ini?” (PAK RT)
“Kemalingan kathok pak.. Eh…daleman..” (NINING)
“KATHOK? Lha kok kathok?” (BU RT)
“Ya mana kami tau. Pokoknya karena sudah banyak korban, kami
ingin pencurinya segera di tangkap, pak !!”
(MINAH)
“Sebentar…sebentar. Kalian ini bagaimana to? Lapor ke RT kok
soal kemalingan celana dalam?” (BU RT)
“Kami juga sebenarnya ndak mau.. Tapi karena ndak berhenti,
ndak ada pilihan lain.” (CINDY)
“Baik..baik..saya mengerti. Akan saya coba tindak
secepatnya.” (PAK RT)
“Jangan dicoba-coba, pak! Kami ndak mau kecolongan yang
lain-lain lagi. Terlalu memalukan, pak.” (TINA)
“Ya ya ya . Akan saya tindak secepatnya. Lebih baik sekarang
semuanya bubar. Silahkan kembali beraktivitas!” (PAK RT)
(WARGA KELUAR PANGGUNG KECUALI PAK RT DAN ISTRINYA)
“Haduh, buk.. Masa laporan pertama kali, laporan kecolongan
kathok ya, bu?”
“Yah…yang penting keinginan bapak terpenuhi toh. Sudah ndang
di minum dulu itu. Sudah dingin lho.”
“Ya sudah, bu. Bapak berangkat dulu.”
“Ya, pak.”
(PAK RT KELUAR PANGGUNG)
“Haaah…warga-warga ini ada apa ya? Malingnya ini juga kenapa
pula nyolong daleman? Haaah…ya sudahlah. Dipikir nemen, kriting rambutku.”
(BU RT KELUAR PANGGUNG) (LAMPU PADAM) (PAGI HARI LAGI AYAM
BERKOKOK)(PAK RT MASUK PANGGUNG, DUDUK, SAMBIL MENYERUPUT SECANGKIR KOPI)
“Haaah, megelno tenan. Kok ada lagi kecolongan kathok itu
lho ? Apa maksudnya si penjahat yo? Sudah dicoba Tanya ke warga yang ronda, lah
pada ndak ada yg tau. Pusing aku sama keadaan desa ini.”
“PAAAK!! PAAAK!!”
(BU RT MASUK DENGAN TERGOPOH-GOPOH)
“Ono opo, bu? Ono opo? Iki ngombe iki ngombee..”
“Pak pak… Duh…. Sebentar…”
“Iya iya, ada apa ? Ini masih pagi, lhoo..”
“Itu lho, pak. Tadi aku angkat jemuran …ternyata…”
“Kenapa? Punya kamu kecolongan?”
(BU RT MENGGELENG)
“Lalu?”
“PUNYAMU PAK YANG NDAK ADA!”
“APAAA !!? PUNYAKU ?”
“Iya! Pertama juga kukira punyaku gilirannya, ya….kalau itu
benar ada maling.. Dan ternyata setelah ku lihat, punyamu yg ndak ada..”
“Apa yg di colong kali ini?”
“Sedikit lebih mahal, tapi tidak berguna..”
“Lah kok malah tebal-tebakan? Ndang ngomong o opo iku?”
“Yo kathokmu ! Hah, sudahlah.. Ndak nyambung ini..
Sepertinya ini memang harus cepat di tindak..”
(MINAH MASUK PANGGUNG)
“Assalamu’alaikum, bu RT.” (MINAH)
“Wa’alaikumussalam.. dik Minah. Ada apa ke sini?” (BU RT)
“Ini saya ngantarkan kerupuk pesanan bu RT . Trus saya dengar
teriak-teriak. Apa ada yg kecolongan?” (MINAH)
“Iya, nduk.. Tapi…” (BU RT)
“Tapi apa bu?” (MINAH)
“Tapi bukan punya saya yang di colong, punya bapak yg di
colong..” (BU RT)
“HLOH ?? Gak normal ini malingnya ? MAHO DIA !” (MINAH)
“HUSH !! Kamu ini , maling juga manusia!” (PAK RT)
“Eh, iya maaf, pak. Terus gimana ini pak?” (MINAH)
“Saya ndak tau.. Saya pusing. Saya benar-benar ndak ngerti
jalan pikiran maling ini. Kenapa harus kathok? Apa maksud dia melakukan hal
seperti itu? Baru kali ini sepanjang hidup saya menjadi kepala RT, saya
menghadapi masalah aneh seperti ini. Lebih baik, kita tunggu dulu
perkembangannya.. Akan saya pikirkan lagi masalah ini.” (PAK RT)
“Ya sudah, pak. Saya kembali dulu. Semoga malingnya cepat
tertangkap … Tak jejek pak kalo ketangkap.” (MINAH)
“Dik…. Ndak boleh begitu, kamu wanita, lho.” (BU RT)
“Eh, iya..maaf bu. Kalau begitu saya permisi.
Assalamu’alaikum.” (MINAH)
“Wa’alaikumussalam” (PAK & BU RT)
“Ya sudah, pak. Sampeyan juga, cepat-cepat berangkat. Nanti
telat. Sekalian aku mau ke pasar.”
“Iya, dek. Ya sudah , ayo berangkat.”
(SEMUA KELUAR) (LAMPU PADAM) (PENCURI MUNCUL MENGENDAP-ENDAP
SAMBIL MENCARI-CARI DAN MENEMUKAN 2 ‘CD’) (KETIKA AKAN KEMBALI, LAMPU HIDUP DAN
PARA WARGA BERAMAI-RAMAI MASUK KECUALI PAK RT DAN ISTRINYA)
“HAYOOO !! MALING GAK KATHOK KATHOK AMBEK KELAKUAN E !!”
(MINAH)
“Gak tau kan kamu kami melakukan ini !! Tangkap dia !!”
(CINDY)
“Lepas penutup mukanya!!”
(NINING)
(KETIKA DI BUKA, TERNYATA ITU DENI)
“MAS DENI !!??” (MINAH DAN NINING)
“Oooh, jadi Mas Deni yg selama ini genit mengambil celana
dalam anak perempuan !! Ayo, sekarang ikut ke rumah pak RT !” (CINDY)
(KELUAR PANGGUNG) (PAK RT DAN BU RT MASUK PANGGUNG SEDANG
BERSANTAI)
“Rasanya kok … sebentar lagi …akan ada musibah datang ya, bu?”
(Tertawa) “Bapak ini…kok lebih sensitif dari pada aku toh?
Aneh ini..”
(TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN)
“PAK RT ! KAMI SUDAH TAU SIAPA MALINGNYA !!” (CINDY)
(PAK RT TERKEJUT DAN MEMUNCRATKAN KOPINYA, SEDANGKAN BU RT
TAMPAK BAHAGIA)
“Pak! Mereka sudah tau malingnya, ayo kita ajak masuk !” (BU
RT)
(PAK RT TERDIAM DAN MULAI TERLIHAT CEMAS)
“Pakk..?” (BU RT)
(WARGA MASUK TANPA DENI)
“Assalamu’alaikum, pak !! Kami sudah tau siapa malingnya yg
genit itu, pak !!” (TINA)
“MAAF KAN SAYA !” (PAK RT)
“Pak RT?” (MINAH)
“Saya yang mencuri kathok itu.. Saya minta maaf. SAYA
MENGAKU”
“Pak ?? Kenapa bapak..” (BU RT)
“Bapak ngomong apa? Pelakunya ini !! (DENI MASUK) Deni , pak
!!” (CINDY)
“Kami menangkap basah dia di kos-kosan Meta, pak !!” (TINA)
(MINAH DAN NINING HANYA MENGHELA NAFAS)
“Jadi, apa maksud bapak bilang bapak malingnya?”
“Begini…sebenarnya saya yg nyolong kathok…saya sendiri.”
“KENAPA PAK?”
“Karena saya senang melihat kalian… Sepertinya setelah
maling itu datang, kalian semua semakin peduli satu sama lain.. jadi, saya
bermaksud melanjutkan usaha si maling.. tapi, saya tak berani untuk
mengorbankan orang lain..jadi, punya sayalah yang saya colong”
(SEMUA TERDIAM KARENA MERASA BERSALAH) (DENI MENGENDAP-ENDAP
KABUR)
“Jadi, karena malingnya sudah ketemu.. Mari kita adili, pak.
Bapak ndak salah. “ (BU RT)
“Iya..Lagipula, pak RT sama sekali tidak mencuri punya
siapa-siapa.” (NINING)
“Iya, pak. Ayo kita adili orang ini.. Lho ndi wong e
?”(META)
“Dia kabur !! AYO DI KEJAR!! Mbak Minah, Mbak Nining, tolong
bantu kami.. Kami mengerti perasaan mbak.. Tapi, maling tetap maling. Hukum
harus ditegakkan mbak. Demi desa ini..” (Cindy)
“Aku tetap di sini saja..” (MINAH)
“Aku juga..” (NINING)
“Ya sudahlah … PAK RT KAMI PERMISI MENGEJAR MALING!!” (anak”
kosan)
MONOLOG
“Jadi beginilah.. Walaupun berawal dari kecolongan, saya
merasa bersyukur karena para warga sangat memedulikan satu sama lain.. Saya
merasa, saya harus berterima kasih pada Deni.”
“Tidak, pak. Saya minta maaf atas perbuatan suami saya..
Saya ndak percaya, itu suami saya…”
“Ndak pa pa, mbak Minah. Sabarkan hati, mbak. Saya sendiri
juga kaget kok, mbak.”
“Iya, dek Minah. Ndak ada yg nyalahkan kamu. Biar Deni saja
yg rasakan akibatnya..”
“Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita susul mereka.. Kita adili
seadil adilnya..”
(SEMUA KELUAR PANGGUNG) (SELESAI)